Home -> Law Blog Directory -> International Law Blogs -> Indonesian Law Reporter (ILR)
OR PHONE (866) 635-1838 for Bankruptcy Help, (866) 635-6190 for Divorce,
(866) 635-2689 for Personal Injury or (866) 635-9402 for Criminal Defense
(866) 635-2689 for Personal Injury or (866) 635-9402 for Criminal Defense
Find a Local Lawyer
Bankruptcy (866) 635-1838
Divorce (866) 635-6190
Personal Injury (866) 635-2689
Criminal Defense (866) 635-9402
Divorce (866) 635-6190
Personal Injury (866) 635-2689
Criminal Defense (866) 635-9402
International Law
: Indonesian Law Reporter (ILR)Dilema Kepemimpinan Kultus
ADVERTISEMENTS
Dilema Kepemimpinan Kultus
Mohammad Jibriel Avessina
(Analis Politik, Center for Regulation,Policy and Governance)
Praktik kepemimpinan kultus kerapkali dilaksanakan sebagai strategi kebudayan yang dilakukan oleh gerakan spiritualisme baru ataupun gerakan sosial budaya baru . Dalam konteks ini kepemimpinan kultus disusun untuk mempertahanakan struktur yang dibentuk dari satuan sosial yang terikat atas komitmen nilai ataupun pandangan yang mutlak. Maka lazim kita temukan pemimpin-pemimpin kultus berangkat dari kelompok-kelompok subkultur marjinal yang mengisolasi diri,menjaga jarak dari kultur-kultur yang lebih dominan secara sosial.
Namun demikian, tidak seluruh kepemimpinan kultus,berangkat dari kelompok sosial yang kecil. Kepemimpinan kultus dapat saja muncul dari arus mainstream kultur yang dominan secara sosial,tatkala keadaan turbulensi sosial hadir di dalam masyarakat (Maisntream), kepemimpian kultus jeli melihat peluang dalam mengeksplorasi tanda tanda disintegrasi sosial berupa potensi konflik laten yang tajam antar golongan di masyarakat (Zellner,1998) . Kajian yang dilakukan William Zellner dalam bukunya Sects, Cults, and Spiritual Communities (1998),dapat kita simpulkan empat karakteristik kepemimpinan kultus.
Pertama Karakter kepemimpinan kultus ditandai oleh pesona pribadi yang kuat dengan memberikan tawaran janji pembaharuan radikal atau janji pemurnian ,murni atas nilai dan kesepakatan sosial yang dianggap telah jatur dan tercemar di Masyarakat, sehingga mengundang arus simpati dan decak kagum di masyarakat.
Kedua, Pemimpin kultus mampu mengeksplorasi rekayasa atribut identitas sosial dengan baik sehingga menciptakan ketergantungan para pengikutnya yang berasal dari latar belakang lanskap sosial yang beragam atas pemimpin kultus berikut struktur yang telah dibangunnya.
Ketiga, pemimpin kultus biasanya memberikan kewajiban cara pandang,perspektif tunggal tertentu yang patut dijadikan pedoman doktrin mutlak dalam kehidupan spiritual dan sosial budaya, cara pandang tunggal semacam ini tentu saja menutup mata atas beragam kritik sosial maupun keberagaman pendapat yang berbeda dalam kehidupan bermasyarakat,maka tidak mengherankan pengikut yang terikat oleh pemimpin kultus cenderung berlaku agresif dan memendam curiga terhadap atas segala pilihan perbedaan pendapat dan kritik kritik sosial yang ditujukan bagi sang pemimpin kultus.
Keempat pemimpin kultus membentuk mekanisme kontrol sosial Reward and Punishment yang ketat. Mekanisme ini biasanya dibentuk untuk mengatur dinamika internal kalangan pengikutnya yang kuat untuk menjamin loyalitas dan perilaku para pengikut pemimpin kultus agar senantiasa tunduk secara absolut dengan kehendak pemimpin kultus.
Kepemimpinan Kultus dalam arena politik
Secara kultural, dalam arena politik Indonesia narasi tentang kepemimpinan kultus telah lama eksis. Kepemimpinan kultus, kerapkali dilekatkan sebagai solusi di mata rakyat (Popular Grassroot) dalam menentukan kepemimpinan politik pada kondisi yang penuh ketidakteraturan sosial yang tidak menentu. Praktik kepemimpinan kultus yang masuk dalam arena politik misalnya dapat dilihat dari populernya di kalangan rakyat jelata mitos tentang pola kepemimpinan Ratu adil dan Satrio piningit, sosok yang muncul di dalam masyarakat sebagai aktor pengikat tunggal integrasi sosial yang menawarkan suatu tatanan zaman yang baru. Zaman yang tenteram sejahtera, setelah tatanan sosial lama telah rusak,oleh ?Goro-goro? yakni suatu kondisi ketidakteraturan sosial yang diwarnai dengan beragam pertikaian internal di Masyarakat. Mitos ini begitu populer ditengah tengah masyarakat, ada semacam penantian dan pengharapan akan muncul pemimpin-pemimpin semacam ini pada periode-periode tertentu yang penuh gejolak sosial. Dalam konteks ini dapat kita pahami bahwa praktik-praktik kepemimpinan kultus sebagai strategi kebudayaan yang muncul dalam periode tertentu diam diam mendapatkan dukungan yang cukup kuat dari akar rumput.
Maka dapat kita pahami bahwa pemimpin di masa lalu kerapkali terjerumus dalam mode praktik kepemimpinan kultus. Praktik kepemimpinan kultus dilakukan sebagai alternatif strategi kebudayaan untuk menggalang dukungan sentimen sosial untuk meraih dan mempertahankan kekuasaan. Maka tidak heran bila pemimpin-pemimpin terdahulu mengenggam sirkuit kekuasaan dalam waktu yang cukup lama,berkisar antara belasan tahun hingga puluhan tahun lamanya. Organisasi-organisasi sosial dan politik justru muncul sebagai pionir pemujaan atas figur pemimpin secara akut. Gelar-gelar adiluhung disematkan pada dada pemimpin-pemimpin tedahulu. Sebagai pelengkap, Kidung-kidung nyanyian digubah sebagai refleksi pemujaan atas pemimpin yang kerap dipertontonkan rutin dalam acara acara seremonial.
Pada dekade tahun 1970-an, kita dikejutkan oleh berkembangnya pola birokrasi patrimonial suatu cita rasa birokrasi ?kebapakan? yang mengedepankan ikatan ikatan sentimental personal untuk kepentingan pribadi, kelompok yang menggunakan birokrasi sebagai kontrol sumberdaya untuk mempertahankan kekuasaan. Kenyataan ini menunjukan pada kita bahwa praktik kepemimpinan kultus yang sudah hadir puluhan generasi ternyata mampu adaptif dengan perkembangan kemajuan atas pengetahuan teknik-teknik organisasi paling kekinian sekalipun.
Namun demikian,dampak yang paling merusak dalam praktik kepemimpinan kultus justru muncul ditengah tengah masyarakat. Pemujaan-pemujaan kolosal atas figur-figur pemimpin tertentu yang diikuti dengan ketaatan mutlak atas pandangan dan sikap sang pemimpin kultus. Demi untuk melaksanakan pembenaran atas keputusan pemimpin kultus, stigma dan label dilekatkan pada kelompok-kelompok sosial yang berbeda pandangan bahkan berlawanan atas kelompok kelompok sosial yang berkuasa. pada puncaknya fase senjakala kejatuhan para pemimpin pemimpin kultus selalu ditutup oleh ?goro-goro? ketegangan-ketegangan sosial yang berujung pada konflik baik laten maupun manifes, selebihnya adalah cerita tentang masyarakat yang terbelah .
Racun bagi demokrasi.
Kini, hampir dua dekade setelah reformasi,zaman telah berubah, kita telah menyaksikan tumbuhnya beragam generasi pemimpin baru. Sistem,struktur dan kelembagaan politik sudah mulai terbangun dengan matang dan kokoh dengan hanya memberikan ruang bagi demokrasi sebagai satu satunya prosedur tata aturan main, the only game in town. Namun demikian,di luar tatanan struktur politik formal,tanda tanda kepemimpinan kultus kembali menggeliat.
Pemujaan kekaguman terhadap ?berhala figur idola? kembali marak dipraktikan oleh beragam kelompok sosial. Kritik-kritik sosial tak lagi di terima sebagai bagian tradisi dari ruang publik yang sehat, tetapai dimaknai dengan penuh kecurigaan,ancaman serta dianggap upaya untuk menjatuhkan kredibilitas sang ?pemimpin idola?. Maka tidak heran, pelan tapi pasti cara pandang ?kacamata kuda? yang memuja cinta figur-figur ?pemimpin idola? begitu mengakar di masyarakat. Demi untuk menyanjung pemimpin idola, ruang publik diokupasi,didominasi praktik kekerasan simbolik, label dan stigma kerapkali dilekatkan secara brutal pada kelompok kelompok sosial yang dianggap berbeda pendapat, pandangan atau haluan politik.
Rangkaian batas kultural mulai dibangun dengan menciptakan dikotomi Loverand hater yang populer pada sirkulasi ruang virtual social media. Kondisi ini menandakan fragmentasi politik pada masyarakat yang akut,bukan karena pertarungan atas pilihan-pilihan rasional tentang program, gagasan atau ideologi tapi karena arus kental pemujaan buta atas sosok figur. Dalam sekejap tradisi kritik,berbagi wacana dalam ruang publik lenyap, tak ada ruang konsensus. Secara perlahan tapi pasti diam diam dipupuk ketidakpercayaan serta antipati kuat atas sistem dan kelembagaan, maka pemimpin idola dipandang sebagai satu satunya jalan untuk mewujudkan sistem berada pada jalan yang dianggap ?benar?.Tanpa "kehadiran-Nya" sistem dan kelembagaan dianggap tidak mungkin berjalan dengan baik. Dia tiada mungkin tergantikan, tak ada yang dapat mampu menyamainya.
Maka, tatkala pemimpin idola tumbang melalui proses pertarungan yang demokratis, kepanikan di mata pengikut pemimpin idola mulai terjadi. Dia yang dianggap tak tergantikan ternyata tumbang. Sirkulasi opini mulai diedarkan untuk menjelaskan bait demi bait dongeng ?Kambing hitam? penyebab kekalahannya akibat ?konspirasi kaum-kaum kegelapan nan jahat untuk melawan kebenaran?. Ketakutan-ketakutan mulai ditebar di tengah tengah komunitas komunitas kelompok masyarakat oleh para pengikut pemimpin idola yang kecewa. Pesannya satu, jika Dia tiada memimpin maka tiada terbentuk keteraturan sosial yang utuh. Hanya Dia yang agung yang mampu melindungi rakyat dari potensi kekacauan sosial. Pada puncaknya, para pengikut pemimpin idola secara kolektif mengekspresikan rasa kegalauan yang begitu meluap sejadi-jadinya dalam ruang ruang publik untuk melepas sang pemimpin idola pergi.
Sulit untuk dibantah, realitas kultural semacam ini menunjukan gejala-gejala tidak sehat munculnya benih benih narasi kepemimpinan kultus di masyarakat. Sejenak kita bersama perlu merefleksikan kembali,menata ulang bangunan sistem dan kelembagaan demokrasi kita. Gejala semacam ini mengingatkan kita untuk tidak lengah dalam ruang kultural untuk mengawal nalar publik, sebab penting sebagai fondasi untuk mewujudkan bangunan kelembagaan demokrasi kita. Demi publik,untuk republik.
.
Full post as published by Indonesian Law Reporter (ILR) on May 04, 2017 (boomark / email).
Related Searches
Are you the author of this blog? Adding USLaw.com to your Blogroll increases relevance. You qualify to display a USLaw Network badge.
Suggest changes to this blog's description or nominate another for inclusion. Register for updates.










